Selasa, 17 September 2013

Tanaman HORTIKULTURA

HOLTIKULTURA
1.LATAR BELAKANG
Hortikultura berasal dari kata “hortus” (= garden atau kebun) dan “colere” (= to cultivate atau budidaya). Secara harfiah istilah hortikultura diartikan sebagai usaha membudidayakan tanaman buah-buahan, sayuran dan tanaman hias (Janick, 1972 ; Edmond et al., 1975), sehingga hortikultura merupakan suatu cabang dari ilmu pertanian yang mempelajari budidaya buah-buahan, sayuran dan tanaman hias. Dalam GBHN 1993-1998 selain buah-buahan, sayuran dan tanaman hias, yang termasuk dalam kelompok hortikultura adalah tanaman obat-obatan.
                                                                                                     

2.TUJUAN
1.1  Mengetahui pengertian HORTIKULTURAL
1.2  Mengetahui jenis-jenis tanaman HORTIKULTURAL dan dapat memebedakan
Antara tanaman HORTIKULTURAL dan BUKAN HORTIKULTURAL
1.3  Mengetahui jenis-jenis tanaman HORTIKULTURAL yang ada di Indonesia dan di Kab. Lamongan
1.4  Mengetahui gambar-gambar tanaman HORTIKULTURA L






1.1 Pengertian dan Istilah Hortikultura
National Institutes of Health, enlarged prostate &ndash clinically referred to as BPH BPH &ndash is often a " common a part of aging" for guys online sildenafil buy. This medication is for utilization in adults and children who will be at the very least years of age sildenafil generic Autonomic Nervous System: dry mouth, sweating increased dosage sildenafil.
Ditinjau dari fungsinya, tanaman hortikultura dapat memenuhi kebutuhan jasmani sebagai sumber vitamin, mineral dan protein (dari buah dan sayur) serta memenuhi kebutuhan rohani, karena dapat memberikan rasa tenteram, ketenangan hidup dan estetika (dari tanaman hias/bunga).
Peranan hortikultura adalah :
a) Memperbaiki gizi masyarakat,
 b) memperbesar devisa negara,
 c) memperluas kesempatan kerja,
 d) meningkatkan pendapatan petani dan 
 e) pemenuhan kebutuhan keindahan dan kelestarian lingkungan.
 Dalam membahas masalah hortikultura perlu diperhatikan pula mengenai sifat khas dari hasil hortikultura, yaitu :  Tidak dapat disimpan lama,  perlu tempat lapang (voluminous),  mudah rusak (perishable) dalam pengangkutan, melimpah/meruah pada suatu musim dan langka pada musim yang lain dan  fluktuasi harganya tajam (Notodimedjo, 1997). Setelah mengetahui manfaat serta sifat-sifatnya yang khas dalam pengembangan hortikultura agar dapat berhasil dengan baik, maka diperlukan pengetahuan yang lebih mendalam terhadap permasalahan hortikultura tersebut.
Hortikultura adalah komoditas yang masih memiliki masa depan relatif cerah ditilik dari keunggulan komparatif dan kompetitif yang dimilikinya dalam pemulihan perekonomian Indonesia pada waktu mendatang, sehingga perlu mulai mengembangkannya sejak saat ini, sebagaimana  negara-negara lain yang mengandalkan devisanya dari hasil hortikultura, antara lain : Thailand dengan berbagai komoditas hortikultura yang serba Bangkok, Belanda dengan bunga Tulipnya, Nikaragua dengan pisangnya, bahkan Israel dari gurun pasirnya kini telah mengekspor Apel, Jeruk dan Anggur.
Pengembangan hortikultura di Indonesia pada umumnya masih dalam skala perkebunan rakyat yang tumbuh dan dipelihara secara alami dan tradisional, sedangkan jenis komoditas hortikultura yang diusahakan masih terbatas. Apabila dilihat dari data selama Pelita V pengembangan hortikultura yang lebih ditekankan pada peningkatan keragaman komoditas telah menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan, yaitu pada periode 1988 s/d 1992 telah terjadi peningkatan produktivitas sayuran dari 3,3 ton/ha menjadi 7,7 ton/ha dan buah-buahan dari 7,5 ton/ha menjadi 9,9 ton/ha (Amrin Kahar, 1994).
·         Terjadinya peningkatan tersebut dapat dikatakan bahwa petani hortikultura merupakan petani yang responsif terhadap inovasi teknologi berupa : penerapan teknologi budidaya, penggunaan sarana produksi dan pemakaian benih/bibit yang bermutu. Tampak di sini bahwa komoditas hortikultura memiliki potensi untuk menjadi salah satu pertumbuhan baru di sektor pertanian. Oleh karena itu  pada masa yang akan datang perlu ditingkatkan lagi penanganannya terutama dalam era pasar bebas abad 21

1.2 Jenis-jenis Tanaman Hortikultural
Jenis-jenis tanaman HOLTIKULTURA ada beberapa macam di antarnya:
  • Pomologi / Frutikultur (tanaman buah): Manggis, Mangga, Apel, Durian
  • Florikultura (tanaman bunga): Melati, Mawar, Krisan, Anyelir, Begonia, Bugenvil, dll
  • Olerikultura (tanaman sayur): Tomat, Selada, Bayam, Wortel, Kentang, 
  • Biofarmaka (tanman obat): Rosela, Kunyit, Kumis kucing, Pegagan dll
Pada perkembangannya, tanaman hortikultur menjadi tanaman budidaya di perkebunan skala besar. Namun intinya tanaman tersebut layak untuk di budidayakan di kebun pekarangan rumah. Tanaman atau buahnya bisa memberi manfaat langsung kepada orang yang membudidayakan. 

Misalkan tanaman sayur, walaupun ini adalah tanaman yang di budidayakan di ladang, naun ketika di taman di pekarangan buahnya juga bisa langsung dimanfaatkan, itu adalah prinsip tanaman hortikultur.

Bukan Golongan Hortikultur
Di beberapa tempat mungkin terdapat tanaman kakao dan cengkeh di pekarangan. Meskipun ada yang menanam di pekarangan, namun tanaman tersebut bukan dalam kategori Hortikultur, karena perlu proses lagi untuk bisa dimanfaatkan. Kakao dan  cengkeh adalah kategori tanaman industri.

1.2 Budidaya tanman HORTIKULTURA  di Indonesia dan Lamongan

Ø  Budidaya Tanaman Holtikultura  Di INDONESIA
Sejarah budidaya buah-buahan telah berlangsung sangat lama. Candi Borobudur yang dibangun pada tahun 824 M sudah mengabadikan pohon pisang, mangga, durian dan nangka pada relief di dindingnya. Demikian pula relief ataupun patung di candi-candi lain, seperti Candi Mendut dan Candi Sukuh telah menggambarkan pentingnya buah-buahan, sayuran dan bunga. Demikian juga tanaman obat telah digunakan oleh bangsa Indonesia sejak jaman dahulu kala. Ini berarti pada masa itu dan mungkin masa sebelumnya tanaman hortikultura telah diusahakan di pulau Jawa. Pada awalnya pohon buah-buahan hanya tumbuh liar di hutan, dan masyarakat memungut buah-buahan dari pohon tersebut. Sampai saat ini masih cukup banyak buah-buahan yang diperdagangkan berasal dari hutan. Salah satu contoh adalah buah durian. Perkembangan selanjutnya, buah-buahan diusahakan pada lahan bekas hutan dan di pekarangan. Pada saat ini, sistem produksi tanaman hortikultura dapat dikelompokkan atas tujuh sistem produksi. Ketujuh sistem produksi tersebut dari sistem yang hampir tanpa pengelolaan sampai sistem dikelola dengan intensif, masih terdapat di Indonesia. Sistem produksi tersebut meliputi:

            1. Sistem Pekarangan. Pada sistem ini, pohon buah-buahan ditanam hanya beberapa pohon bersama dengan tanaman lain seperti sayuran, bunga, maupun tanaman biofarmaka. Karena luas pekarangan yang relatif sempit dan beranekaragamnya tanaman yang ada di pekarangan, maka masing-masing spesies hanya ditanam sedikit. Tetapi karena total areal pekarangan di Indonesia yang cukup luas, maka total produksi buah-buahan yang berasal dari pekarangan juga tinggi. Di pekarangan, pohon buah-buahan biasanya tidak diandalkan sebagai sumber penghasilan utama. Oleh karena itu seringkali tanaman buah dibudidayakan dengan pengelolaan yang minimal. Pohon yang dibudidayakan seringkali sudah tua dan berasal dari seedling atau cangkok. Pohon-pohon muda dipekarangan yang ditanam sesudah era tahun 70 an, banyak pula yang berasal dari bibit sambungan atau tempelan (okulasi). Buah-buahan yang biasanya dibudidayakan di pekarangan antara lain adalah mangga, rambutan, pisang, nenas, nangka, jambu air, jambu biji, belimbing, pepaya dan durian. Tanaman sayuran yang sering ditanam di pekarangan antara meliputi katuk, bayam, kangkung, kenikir, kemangi, beluntas, cabe, tomat, terung, dan lain-lain. Tanaman sayuran berupa pohon seperti melinjo dan turi juga banyak ditanam di pekarangan. Tanaman biofarmaka yang banyak ditanam di pekarangan antara lain adalah Dlingo, Jahe, Kapulaga, Kejibeling, Kencur, Kunyit, Lempuyang, Lengkuas, Temulawak, Temuireng. Sedangkan pada kelompok tanaman hias dan bunga banyak jenis yang sering ditanam di pekarangan.

            2.Sistem Hutan-Kebun Campuran. Pada sistem ini, pohon buah-buahan ditanam di ‘kebun’, ialah lahan kering di luar desa secara bersama-sama dengan pohon-pohon dan tanaman lain. Pada sistem ini biasanya ada satu atau dua spesies yang dominan. Sistem ini berkembang cukup luas di Sumatera dan Kalimantan serta di desa-desa di Jawa yang jauh dari kota. Tanaman buah yang ditanam biasanya berasal dari biji (seedling) dan berumur tua. Karena itu, buah yang dihasilkan mempunyai keragaman tinggi. Tanaman pada sistem produksi ini juga dikelola secara minimal, bahkan ada yang hanya dipanen tanpa pengelolaan yang berarti, sehingga mutu buah yang dihasilkan biasanya rendah. Tanaman buah yang dibudidayakan dengan sistem ini meliputi antara lain manggis, duku, durian, rambutan, lengkeng. Beberapa sayuran dan tanaman biofarmaka sering tumbuh di bawah atau diantara pohon buah-buahan, antara lain meliputi zingibreaceae, temu-temuan, singkong, dan lain-lain.

            3. Sistem Monokultur Buah-buahan Skala Kecil. Pada sistem ini tanaman hortikultura dibudidayakan di kebun, lahan kering, lahan sawah yang dikeringkan (pada musim kemarau) secara intensif, dengan pengelolaan yang baik. Karena itu biasanya mutu komoditas yang dihasilkan baik dan produktivitasnya tinggi. Pohon buah-buahan yang ditanam berasal dari hasil perbanyakan vegetatif, sehingga buahnya relatif seragam. Buah-buahan yang dibudidayakan antara lain meliputi pepaya, pisang, nenas, jeruk, belimbing, sirsak, jambu biji, mangga, rambutan dan apel.

            4. Sistem Tumpangsari antara pohon buah-buahan dengan tanaman lain. Pada sistem ini diantara pohon buah-buahan yang ditanam, masih ditanami tanaman semusim. Sebagai contoh adalah mangga di Indramayu yang ditanam di sawah, sehingga diantara tanaman mangga masih ditanami padi. Pada kebun mangga di beberapa daerah juga ditumpangsarikan dengan tanaman lain seperti kacang tanah, cabe dan tomat pada saat tanaman mangga masih muda. Di dataran tinggi, seringkali dilakukan penanaman sayuran secara tumpangsari, seperti wortel dengan kubis dan banyak kombinasi tumpangsari lainnya.

            5. Sistem Perkebunan Buah. Sistem ini dikelola oleh perusahaan agribisnis. Tanaman buah dibudidayakan secara monokultur dengan skala luas dan pengelolaan yang intensif. Sistem ini menghasilkan buah dengan mutu tinggi dan seragam. Produktivitas kebun juga tinggi. Buah yang diproduksi dengan sistem ini meliputi: nenas, pisang, mangga, jeruk, markisa.

            6. Sistem Produksi Hortikultura Semusim. Pada sistem ini dibudidayakan tanaman semusim seperti berbagai jenis sayuran dan bunga, buah semangka, melon dan lain-lain. Pengelolaan tanaman biasanya intensif, dengan menggunakan benih komersial. Sistem produksi ini biasanya produkstivitasnya tinggi dan kualitas yang dihasilkan cukup baik. Kubis, kubis bunga, wortel, tomat, paprika, petsai, lobak, bawang daun, bawang putih, buncis, kentang, dan sayuran yang berasal dari daerah temperate banyak ditanam di dataran tinggi, sedangkan kangkung, bayam, jagung muda, kacang panjang, cabe, tomat, bawang merah, ketimun, labu, terung banyak ditanaman secara monikultur di dataran rendah.

            7. Sistem Produksi Intensif. Sistem ini dikembangkan untuk mengusahakan buah-buahan, sayuran, dan bunga yang berasal dari daerah temperate seperti melon, strawberi, anggur, paprika, tomat, carnation dan lain-lain. Sistem ini juga meliputi sistem produksi hidroponik.

            8. Sistem Produksi Hortikultura Organik. Akhir-akhir ini sistem ini menjadi kecendrungan dalam produksi sayuran. Banyak konsumen yang menghendaki sayuran dan buah organik. Untuk buah-buahan tertentu seperti durian, rambutan, sawo, manggis, kedondong, karena sebagian besar diusahakan secara agroforestri dan di pekarangan, biasanya organik (tidak dipupuk, tidak disemprot pestisida). Namun kebanyakan buah tersebut tidak secara formal diakui sebagai buah organik. Sedangkan untuk sayuran telah berkembang secara sistematis teknologi produksi sayuran organik. Sebagian dari sistem produksi ini sudah terakreditasi sebagai kebun sayuran organik.

Pada saat ini bunga yang dipasarkan di Indonesia sebagian besar berasal dari sistem produksi monokultur yang cukup intensif. Sayuran sebagian besar diproduksi dengan sistem produksi monokultur maupun tumpangsari, baik secara semi intensif maupun secara intensif. Sedangkan buah-buahan yang ada di pasaran dalam negeri sebagian besar berasal dari sistem pekarangan dan sistem Agroforestry. Minimnya pengelolaan dari dua sistem produksi ini menyebabkan buah yang dihasilkan biasanya berkualitas rendah. Selain itu buah-buahan tersebut keragamannya tinggi dan tidak ada kepastian citarasa. Dalam satu koli terdapat buah dengan kualitas tinggi, enak dan menyenangkan, bercampur dengan buah berkualitas rendah, masam dan tidak enak. Ketidakpastian kualitas ini disebabkan karena: (a) pohon yang ditanaman berasal dari hasil perbanyakan generatif (dari biji), sehingga kualitas antar pohon bisa berbeda; (b) karena buah berasal dari pekarangan, sedangkan pengelolaan pohon antar pekarangan bisa sangat berbeda, sehingga menghasilkan buah dengan kualitas yang berbeda; (c) banyak petani atau penebas yang melakukan panen serempak, baik buah masih muda maupun buah matang, kemudian buah tersebut diperam agar segera masak; (d) pengelolaan pasca panen buah yang buruk dan kadang-kadang ada kesengajaan mencampur buah buah bermutu tinggi dengan yang rendah.
            Tingginya keragaman genetik tanaman buah yang ada pada kedua sistem produksi ini secara ekologi menguntungkan, tetapi ditinjau dari sisi agribisnis kurang menguntungkan. Keragaman yang tinggi menyulitkan perdagangan. Ketidakpastian citarasa menyulitkan pembuatan citra yang baik atas suatu produk. Sebagai contoh, mangga Arumanis sebenarnya mempunyai citarasa yang baik dan berkualitas tinggi, tetapi karena adanya keragaman yang tinggi, masyarakat seringkali ragu-ragu untuk membeli, karena khawatir mendapat mangga Arumanis berkualitas rendah. Kondisi ini berbeda dengan produk buah impor, yang karena sudah diseleksi dengan baik, ada jaminan terhadap keseragaman citarasa. Citarasa buah durian Monthong yang dibayangkan oleh pembeli akan dapat dibuktikan dengan membeli buah tersebut dimanapun.
            Karena kondisi ini, maka pengembangan buah-buahan di Indonesia pada masa yang akan datang seharusnya mengarah pada sistem produksi monokultur ataupun tumpangsari dengan pengelolaan yang intensif dan bibitnya berasal dari hasil perbanyakan vegetatif. Dengan pengelolaan yang intensif, maka produkstivitas kebun akan tinggi, buah seragam dengan kualitas yang baik. Pada buku ini akan diuraikan sistem produksi intensif buah-buahan tropika.
1.3       MACAM-MACAM HOLTIKULTURA DI LAMONGAN:     
1.Pomologi/ frutikultural (tanaman buah):
Contoh :mangga, semangka,dll.
2.florikultura (tanaman buah):
            Contoh :Melati, dll.
3. Olerikultura (tanaman sayur):
            Contoh : tomat,cabe, dll.
4.Biofarmaka (tanaman obat):
            Contoh :kunyit, kumis kucing, dll.
1.4           Gambar-gambar tanaman holtikultura
     





0 komentar:

Posting Komentar